Nasigorengseratus

Labels

Selasa, 27 Januari 2015

Cerpen Islami, Isnpiratif, Moltifatif Ala Kang Aaf (GORESAN TINTAKU)


GORESAN TINTAKU
“Siapa Dirimu” sepucuk tulisan tak bertuan yang kutemukan didepan pintu rumah. Aku terus berpikir siapa yang mengirimnya, karena setiap pagi tulisan misterius itu selalu tergeletak sedirian didepan pintu rumahku.
“Syita…… kok masih diluar nak..!!!” tegur ibu pelan, selepas kumerenung setelah tulisan misterius hadir menggoda malamku kembali.
Angka 23.00 cukup membuat mataku mengantuk, sebelum tertidur aku mempersiapkan diri untuk berhias sebelum tidur, biasa cewek perawatan intensif hehehe,
“Ma… aku berangkat dulu” teriakku dari pintu luar karena ayam subuhpun sepertinya lupa membangunkanku, maklum saja ditelingaku ada handseth dengan lagu (sakitnya tuch disini didalam hatiku)
“Syita…. Gak sarapan dulu nak…!”
“Ya sudah ma…!!!” teriakku dari atas motor Mio soul, hatiku menggertak waktu (Payah aku telat masuk kerja lagi, bisa dipecat nich), aku panik sudah sangat sering aku kesiangan masuk kerja, aku bekerja disalah satu media penerbitan dan mediat cetak.
Sepertinya masih ada waktu untuk membuat alasan, namun suaranya membuatku terus melangkah masuk kekantor redaktur  umum,  ya….tanpa ada kata yang keluar dari mulut pimpinan tiba-tiba ada surat keputusan yang membuatku kembali lagi kerumah. Aku dipecat “AAAAA aku memang bersalah, aku terlalu lalai, aku juga kurang bisa mengatur waktu-waktuku” jerit bathinku menyesal.
“Siapa Dirimu” lagi-lagi tulisan tak bertuan itu ada didepan pintu, ingin saja aku mengabaikannya tapi tak bisa ketika membacanya saja pasti ada indikasi untuk merenungkannya, aku sadar aku adalah orang yang lalai.
Huff….. tiga hari tak keluar rumah rasanya penat, dan begitu sumpek, aku beralih arus, aku sekarang bekerja diroti bekrey milik bibiku,  alhasil akupun menjadi sedikit konsisten dan aktif bekerja.
Belum genap satu bulan aku bekerja rasanya sudah begitu jenuh, sepertinya terlalu capek seharian hanya berbaur dengan tepung, mentega, telur dan manisan lainnya seperti coklat, strowberi. Aku jadi jarang dan masuk kerja bolong-bolong.
Seringkali aku mendapat teguran dari bibi, waktu pas hari pertama gajian rasanya senang banget, ada uang dikepalaku berputar-putar rasanya.
“Syita…..” aku dipanggil untuk menerima gaji pertamaku,
“Alhamdulillah” aplop pertama isinya lumayan 900.000 an. Kemudian aku membuka amplop kedua ya payah untuk kedua kalinya aku dipecat. Sedih ada tapi menyesal tidaklah, karena aku memang kurang cocok untuk bekerja sebagai tukang roti. Hehehe.
Dengan pandangan lesu aku kembali kerumah “Siapakah dirimu” tulisan itu kembali menggoda didepan pintu, aku renungi sejenak sebelum aku mengabaikannya, “Aku adalah orang yang selalu gagal” besit bathinku kembali. Aku semakin penasaran, siapa yang menulis ini semua, pikiranku semakin geram, tentang asal dari tulisan yang selalu hadir setiap hari didepan pintu.
“Siapa Dirimu” dipagi-pagi sekali tulisan itu hadir dipintu depan rumahku, seperti biasa aku berpikir dan mengahayatinya, aku semakin penasaran siapa sebenarnya yang menulis tulisan pendek yang aku selalu menghayatinya setiap kali aku membacanya.
“Huf… kenapa aku harus resah dengan tulisan itu, kenapa juga aku harus memikirkannya, biarlah dia terus menghantui, lagian apa pengaruhnya untukku” Geram bathinku memuncak.
“Siapa Dirimu” lagi-lagi dia datang tak diundang, tapi aku berhasil mengabaikannya, aku merasa tak perduli dengan tulisan yang taka da tuannya itu, aku juga tidak tahu dari tangan yang mana dia keluar, kenapa tulisan itu begitu mistery, tidak ada waktu lagi untuk merenunginya sedangkan mamaku sekarang lagi sakit keras, apa lagi aku adalah wanita yang malas sudah dua kali aku dipecat kerja, sedangkan ayahku adalah orang yang keras, otoriter, bahkan ambisinya untuk membuatku sukses sungguh luar biasa, seringkali ayah membelikan aku buku-buku cerita seperti novel dan cerpen-cerpen fiksi lainnya. Tapi sayang, sekarang ayah tidak pernah ada dirumah sepertinya dia menghilang dan kecewa karena aku tidak mau untuk melanjutkan kuliah karena aku begitu menghawatirkan mama yang sakit-sakitan.
Sejak ayah menghilang perekonomian kami merosot, sumber penghasilan yang sebelumnya sudah ada jatah dari ayah sekarang entah hilang kemana, apalagi kondisi mama yang tambah hari makin parah saja, membuatku harus bekerja ekstra tapi siapa yang mau menerima si pemalas bekerja, sedangkan rekornya sangat buruk dengan dua bulan bekerja dua kali pula dipecat dari dua perusahaan,
Mama juga tak kunjung sembuh, berobatpun hampir kami tak mampu, namun melihat kondisi mama yang kian parah membuatku terpaksa untuk membawanya kerumah sakit. RSUD Syarifah Ambani Bangkalan, kondisi mama semakin tak memungkinkan, mama pun koma entah penyakit apa yang sedang menteror mamaku, sepertinya dokter merahasiakan hal ini.
Aku begitu pusing, pikiranku sibuk dan membingungkan, aku terpaksa untuk pulang sejenak tapi “Siapa Dirimu” tulisan itu kembali menggoda, aku hapus tulisan itu dengan marah dan kesal, darahku naik pitam, emosiku sudah tingkat dewa, aku jadi ingat sama ayah.  “kemana dia sekarang..?”
“Ayah jahat, ayah tidak bertanggung jawab, kenapa ayah tega meninggalkan kami, kenapa ayah menghilang, aku berjanji tidak akan malas lagi, aku akan bangkit dan tidak akan mengecewakan ayah lagi, ku mohon ayah kembali”  jerit bathin dalam bingkai doa Asharku.
“Ctarrrr” ada benda kecil yang jatuh dari rak bukuku, aku ambil benda kecil itu dan kuperhatikan aku sedikit lebih paham tentang benda kecil yang lama sekali tak pernah kusentuh “PENA” aku jadi teringat semasa sekolah dulu, dengan pena ini aku bisa menjuarai lomba menulis sekabupaten.
Aku kembali ke rumah sakit untuk menemani mama, akupun terus berdo’a  demi kesembuhan mama, aku hanya bisa pasrahkan ini semua pada tuhan.
Aku hanya bisa bercerita lewat pena yang aku bawa, aku terus menulis dan menulis, aku yang hobbinya membaca novel akhirnya membuat cerita pendek, dan terus menulisnya hingga aku lupa, entah berapa cerpen yang sudah aku tulis. Aku terus terinspirasi karena ada ketenangan tersendiri ketika aku menulis sesuatu, dengan menulis aku tidak sepanik sebelumnya, meskipun kondisi mama tidak ada perubahan.
Hampir satu bulan dirumah sakit, rasanya menghawatirkan “Ya..tuhan biayanya aku dapat dari mana…?” ucap bathinku merintih, aku hanya pasrahkan sepenuhnya pada Allah SWT. Apapun garis-Mu itulah yang terbaik.
Hawatir tulisanku ini tidak bermanfaat bagi orang lain, akhirnya aku buatkan halaman khusus cerpen di Facebook dan blogspotku, Al-hamdulillah ide ini aku terinspirasi dari penulis best seller cerpen “MENCARI TUHAN DALAM CINTA” yaitu Al-makki yang sedang marak difacebook. Cerpen yang pernah dibedah oleh STAI Arrohmaniyah sampang ini akhirnya mencapai 17.000 lebih likers difacebook dan meraih beberapa penghargaan, dan sekarang Al-Makki lebih dikenal dengan Tinta Emas Madura. Aku semakin ingin mencapai lebih  baik dari Tinta Emas Madura itu.
Kondisi mama makin parah, aku juga makin hawatir, aku begitu sedih, betapa menyesalnya aku menjadi wanita pemalas yang menyusahkan orang tua, aku terus merenung pukul 01.30 Wib, suasana di nihari memang sedikit tenang dan sayu, dengan malam yang mulai mengunggu kehadiran fajar, disitu aku terus mengangkat tanganku berdo’a demi kesembuhan mama, aku mencoba memiscaall tuhan diseprtiga malam-Nya, air mataku pecah dan berserbakan dikertas cerpenku yang hampir selesai. Aku tegarkan hatiku untuk memasrahkan keadaan ini kepada tuhan disepertiga malam-Nya.
Aku melanjutkan cerpenku hingga subuh tiba, aku bercerita pada tuhan tentang konflik seorang pemuda dan 3 orang wanita yang begitu mencintai tuhannya, sehingga wanita itu meninggal dunia, sekaligus menjadi tanda bukti kalau tuhan mencintai pemuda itu sehingga tuhan mengambil nyawa 3 wanita itu agar pemuda sholeh itu lebih panjang menyebut nama tuhan-Nya.
“Bismillahirohman” aku mengunggah cerpen itu dihalaman Facebookku, lega rasanya curhatan untuk tuhan telah tersampaikan, puas dan ingin terus menulis dan menulis.
Sepertinya aku kecapean aku baru tersadar  dari tidurku 08.00 Wib. Aku terkejut ketika mamaku sadar dari koma panjangnya. Aku riang sekali tanpa terasa air mataku tumpah melewati ruas pipi lesungku. Mama begitu cantik, dan Nampak begitu pucat, aku begitu menyayanginya.
“Mama. …Syita janji tidak akan malas lagi, syita akan bangkit dan menjadi syita yang rajin” sesalku dipangkuan mama. 
Kondisi mama berangsur baik, semuanya hampir bejalan normal. Menurut informasi mama sudah bisa pulang lusa, betapa bahagianya aku karena sebentar lagi aku sudah bisa bersama mama lagi dirumah.
Aku masih sibuk memikirkan adsministrasi pembayaran dirumah sakit. “Ya Allah dapat uang dari mana aku untuk membiayai mamaku” besitku bingung karena mungkin biayanya lebih dari dua puluh jutaan, dengan langkah lunglai dan ucapan Bismillah aku keruang adsministrasi.
“Adik tidak usah menangis, karena semua pembiayaan atas nama Ibu Rusmini sudah ada yang menanggung sejak Ibu Rusmini pertama kali dirawat” Hatiku terhenyak kaget “Siapa” Bathinku bingung.
Dengan ucapan syukur aku kembali untuk menemui mama, alangkah kagetnya ternyata dipelukan mama ada ayah.
“Ayah”  akupun berlari memeluknya pula, pada waktu itu RSUD Syamrabu bagaikan surga hidupku, air mataku berlinang bening dan jatuh perlahan dari dagu panjangku.
“Assalamualaikum…” kita kaget dalam keheningan, akupun menoleh dan membuka pintu dari asal suaara salam itu.
“Waalaikum salam” jawabku, aku begitu kaget setelah aku membukakan pintu, ternyata Pak Zain, dia adalah bosku ketika aku bekerja dimedia cetak dan penerbitan dibeberapa bulan yang lalu.
Pak Zain sedikit bercerita tentang beberapa cerpenku dihalaman facebookku, menurut Pak Zain cerpen-cerpenku banyak yang nge-like hingga ribuan likers facebook. Apalagi cerpen terahirku yang aku tulis menjelang subuh dengan judul “KETIKA TUHAN CEMBURU” itu menembus 20.000 likers facebook, aku terkejut ketika melihatnya langsung difacebookku ternyata banyak yang meminta untuk dicetak dan dibukukan. Aku begitu senang impianku sebagiannya sudah tercapai yaitu ingin seperti Almakki yang cerpennya banyak diminati dan menjadi inspirasi bagi yang membacanya.   
Pak Zain meminta izin kepadaku untuk menerbitkan semua cerpen-cerpenku, akupun langsung setuju, akupun mengusulkan kepada pak Zain untuk judul covernya yaitu KETIKA TUHAN CEMBURU, ternyata aku bisa.
Kesepakatan sudah aku tanda tangani, 50% dari hasil penjualan akan kembali kepenulis. Aku mama dan ayah sudah sampai didepan rumah, akupun berlari riang dan bahagia, karena keluargaku kembali normal seperti semula, aku dan ayah mencoba memapah mamaku, karena kondisi lemah.
“Siapa Dirimu” Lagi-lagi tulisan itu menunggu didepan pintu, mama dan ayah tersenyum, keningku mengerut tajam memandang tulisan kecil itu, akupun menghampiri tulisan itu, kemudian aku tulis juga dibawah tulisan itu sebuah kata sebagai jawabannya “AKULAH SIPENULIS by: Zahrotus Syita”  ya ini jawabanku.
Aku baru mengerti, maksud dari tulisan itu, sebuah pertanyaan kecil dengan jawaban yang besar. Siapapun engkau…. Aku adalah Si Penulis.
(kang aaf @r)

Cerpen Islami Ala Kang_@af (BINGKISAN KECIL DISERATUS TAHUN KITA)


BINGKISAN KECIL DISERATUS TAHUN KITA
“Angin-Angin kemari” deru keras sidaun yang sedang hijau lebar itu.
“Ada Apa? sidaun tumben pagi-pagi sudah bangun”. Jawab angin.
“Angin aku ingin menari, tolong goyangkan aku…” pinta daun
Daun-daun disetiap pagipun terbangun, mencari angin, mengejar mimpi-mimpinya, suaranya yang merdu membawa kesejukan, irama siulan burung menambah melodi dalam setiap getaran daun yang basah dengan embun-embun. Semaunya tertawa, pandangan daun lepas keatas, menatap langit-langit yang memberikan kesejukan, mentari mulai sepenombakan, indahnya langit itu, membuat daun terus ingin keatas mengejarnya.
“Hai langit, tuhan menciptakanmu seungguh luar biasa. Engkau begitu dermawan, engkau memberikan aku segalanya, hujanmu, embunmu, bahkan cahayamu.  Semuanya terpadu dalam dirimu, aku mengagumimu langit” Teriak sidaun, menggelegar diantara telinga-telinga fiktif.
Angin selalu membuat hari-hari sidaun terbang melayang,  goyangannya kecil terus membuat sidaun tak henti menari, ingin rasanya dia mengajak yang lain kenapa, ntahlah semuanya hanya parody, senyum sedih dipadukan, ya abstrak, itulah angin. Cendrung saja bila dipikirkan semakin rumit diluar dunia manusia.
Ada hal kecil yang daun abaikan, setiap hari sibatang berusaha memikul beban semuanya, sibatang berusaha untuk berbuah tapi selalu pupus entahlah, sibatang hanya bisa berucap mungkin musin depan. Selalu musim depan, dan selalu musim depan, setia hari dia mencoba menciptakan daun yang lebih segar dari saat ini, tapi sidaun setiap hari pula dia menggugurkannya, kesan pahit, elegi dia tanam dalam akar kokohnya, dipendam dan diabaikan.
“Daun… apa yang masih kurang dari diriku” ungkap sibatang, penuh semangat.
“Sibatang aku ingin kita lebih tinggi dan besar lagi, aku ingin kita buat ranting-ranting yang panjang agar aku semakin banyak dan bisa mengindahkan alam bersama langit dan cahaya fajarnya dipagi hari, agar juga aku bisa mencuci wajahku dari embu-embun yang langit berikan, serta aku bisa dilihat oleh semuanya, betapa hijaunya, indahnya aku, dan betapa cantiknya aku.”
“Masihkan aku kurang selama ini menghijaukanmu, membuatmu semakin banyak dan mengindahkanmu, aku juga yang mendekatkanmu dengan angin, aku junjung tinggi dirimu agar kamu bisa merasakan semuanya, walaupun aku masih belum pernah merasakannya, tapi aku merasa senang karena dirimu sudah cukup bahagia setiap pagi, dengan nyanyian burung dan cahaya pagi yang begitu menghangatkanmu.
“Engkau egois, mana pengorbananmu, kamu hanya bisa membuatku bisa setinggi ini, dan bisa membuatku sebanyak ini, mana janji kamu untuk mengindahkanku, jadi selama ini kamu, melakukan ini hanya sekedar untuk menghiburku, kenapa kamu lakukan ini kepadaku, katanya kamu menyayangiku, mencintaiku, katanya kamu begitu hawatir dan takut untuk kehilanganku, terus kenapa yang aku inginkan kamu melarangnya, kamu keterlaluan. Kamu begitu hawatir dengan semuanya tapi kelakuan kamu seperti tidak ada hawatirnya sama sekali” sidaun kesal dengan ungkapan sibatang, ya mereka bertengkar lagi, mereka menyatu tapi terpisah, mereka satu tapi mendua, mereka seikat tapi berpencar. Rumit memafahaminya. Hanya yang punya selera yang bisa begini, siapa?, kurang tahu yang selera saja.  langitpun mendung gelap, air hujanpun turun untuk menghibur mereka berdua, sayang cahaya mentari tak ikut campur dengan ini, perang hati terus bergulat menguji kegoisannya masing-masing. Sibatang terus berusaha dalam keadaan marah, terus berusaha untuk menghijaukan daun-daun dihari esok.
“Indanya pagi ini, hijaunya..?” rayu si sibatang mencoba meminta maaf atas pertikaian didemensi waktunya.
“kamu masih marah” sibatang kembali melobi perasaannya.
“kenapa kamu lakukan ini semua, bukankah sudah banyak daun hari ini, atau kamu hanya ingin menjelek-jelekkan keadaanku saja. kau egois. Disaat marah, semuanya sepertinya ingin kau lakukan semuanya untukku. Palsu, bohong, fatamorgana. Kau jahat. Aku sangat mencintaimu tapi aku sudah sangat  terlanjur membencimu”. Emosinya makin meluap bagai panci mendidih diatas kompor.
“Huf…. Sudahlah dia sedang marah” besit sibatang, “egois aku apa dia…?,” besitnya lagi menyusul episode besitan pertama. “terlanjur benci ya…?” besitan edisi tiga terus menyusul, baru besitan dan besitan terus hadir hingga beberapa edisi tak terhingga, “ya enyahlah, aku ya diriku sendiri”  besitan ini edisi terakhir.
Sejak sibatang lahir dia terus berusaha untuk bangkit, indah rasanya ketika pertama kali lahir diselimuti oleh daun besar, damai, hingga sibatang jatuh cinta, cinta bukan karena parasnya yang hijau indah, tapi karena kondisi sidaun yang begitu baik namun begitu lemah, mudah terhempas disekitarnya dan mudah bergoyang oleh tetesan hujan, gampang runtuh oleh tiupan angin kecil. Tapi daun tidak menyadari dirinya sendiri, sehingga dia terkesan meremehkan hal kecil. Yang bisa menimbul sesuatu yang besar.
Lama sekali sibatang tidak melakukan apa-apa,  sepertinya dia lagi menjauh, tapi menjauh kemana, mereka berdua satu, tapi konfik, konflik apa…?, hanya yang merasakan yang bisa menerka,  sayatan bahasa yang lembut ini, tak terdengar oleh amarah yang berkepanjangan, pujian, bingkisan sekalipun seperti roti tawar yang sudah basi, ada kekecewaan  dalam benak sibatang, ada juga sedikit putus asa, ingin rasanya batang menggugurkan daun-daun itu, tapi tak bisa, rasa sayang yang besar, membuatnya begitu lemah, menggugurkan satu helaipun tak sanggup.
Disisi lain daun-daun merasa tertekan hebat, rantingnyapun basah oleh tangisan walau tak ada airmata tapi perasaan berkata seperti itu, hijau yang merona beralih menjadi hijau kusut, ini bukan musim kemarau, tapi tangisan tekanan batin, diaroma terpaut diruas-ruasnya, angin sahabat dekatnya mencoba membuatnya menari, langit-langitpun sedih pula iba, semuanya menyalahkan Batang, “Batang terlalu egois” pungkasnya. Langitpun terus mengguyur membasahi daun, dan ingin menyegarkannya kembali, anginpun terus bergoyang kencang untuk mengajaknya bergoyang dan bernyanyi, lagi-lagi cahaya mentari tak ikut campur dengan konflik ini, entah kenapa..?.
Konflik ini terus berkepanjangan daun yang lebam itu sedikit menghijau, hujanpun terus menderas karena daun itu hampir menghijau, angin sebagai sahabat ingin sekali berupaya membuat daun itu tertawa tapi mulutnya dimana, bingung juga sedangkan tangisannya kentara dari kusutnya dia.
Langit terus memberikan hujannya demi sahabat sidaun begitu pula dengan angin semakin kencang karena ingin menghiburnya.  Dilain sisi kondisi sudah becek,, selama itu pula sibatang menahan agar dirinya tak roboh, teruslah kuat, karena dia takut daun-daun itu akan lenyap, daun masih acuh, menyangka sibatang tak melakukan apa-apa, daun menyangka sibatang sudah tak perduli lagi padanya. Sibatang menyadari hal  itu, namun sidaun tak pernah mau kebawah ada apa dibawah, ya karena sahabat-sahabat sidaun telah membutakannya, perasan batang waktu itu terus terdesak, tertekan dan merasa tertindih hebat.
“Brruuaaaakk” akhirnya sipohon menyerah tumbang, ada bingkisan kecil yang dia pertahankan.
Hujan dan angin hanya bisa melambaikan tangan setelah runtuh, apa ini yang dinamakan sahabat, yang selalu memberi pendapat dan membenarkan,tapi tak menyadari hal itu telah menjatuhkannya.
“Daun…. aku begitu menyayangimu, aku tidak ingin menjatukanmu seperti ini, aku ingin terus hidup dan menghijaukanmu, tapi aku tidak sanggup terus kedinginan dan terus basah seperti ini. Aku minta maaf” ungkapan sibatang.
“Maafin aku juga, selama ini aku salah, engkau begitu memperjuangkan aku, hanya saja aku tidak sadar kalau dirimu begitu berarti dan sangat membutuhkanmu, engkaulah ruhku.” Sesal daun mendalam.
“Sudahlah tak usah menyesal, semuanya sudah berlalu, yang telah berlalu jangan ungkit kembali dimasa depan, buatlah hari esok lebih berarti, kita harus bisa terus hidup dihari berikutnya, maksudku cinta kita harus tetap hidup, walau setelah ini aku akan jadi kayu bakar, dan menghangatkan orang lain, maaf aku tidak bisa menghangatkanmu karena kita hidup dalam dimensi masing-masing”. Tutur batang mulai sayu.
“Aku benar-benar menyesal sekarang, aku akan terus berusaha untuk menjadi diriku sendiri, andai saja waktu kita bisa kembali, aku tidak akan melakukan hali ini” ungkap daun kembali.
“Penyesalan selalu diakhir, aku begitu mencintaimu, janganlah menyesal dengan apa yang terjadi sekarang, syukurilah dan ambil hikmah dari semua ini, daun…. Selama seratus tahun aku hidup bersamamu tapi aku masih belum bisa menjadi yang kamu harapkan, yang bisa memberikan semuanya, aku juga minta maaf, aku tidak bisa memberikan apa-apa, aku hanya bisa memberikan buah kecil ini, yang aku pertahankan disaat hujan dan angin tadi, karena setelah ini cinta kita akan tumbuh kembali diepisode kedua” ungkap batang penuh tangis.
Bingung ya bingung desiran diaroma air mata terasa diakhir, penyesalan pungkasnya jangan disesali, yang berlalu jangan diungkit dimasa depan bila tak bisa menghargainya, elegi berkepanjangan disapu oleh angin, sibatangpun mengering, yang dulunya kokoh kini merapuh, buah yang dia persembahkan untuk sidaun sudah tenggelam ditanah, sedangkan daun sudah lama bekasnya menghilang, sibatang hanya memiliki keyakinan  yang kuat bahwa cintanya akan tumbuh kembali, dan hujanlah, maka buah yang dia persembahkan untuk sidaun menguncup dan inilah awal dari cinta sibatang yang terhempas angin badai waktu lalu akan lahir kembali, hiduplah cintanya…???. Dan cahaya fajar hadir untuk menyemangatinya.
(Kang Aaf AR)
*Penulis Amatir Tinta Emas Madura

SEKILAS TENTANG KANG_AAF.


Kang aaf adalah nama pena dari nama lengkap Agus Mukaffi Maki, pria sawu matang ini di lahirkan di kota yang amat jauh Palangkaraya Kalteng pada Tahun 1990, dia menetap dan di besar di Madura ini pada Tahun 1997. Penampilan sederhana adalah modal utama dalam segala hal , pendidikan  yang hanya sekedar  di tempuh sampai SMA saja tidak melemahkan semangat Aaf untuk  terus maju kedepan sesuai zaman.
Di zaman yang simple ini semua serba merosot dan serba kekurangan, zaman sekarang adalah zaman singkat sehingga orang-orang Intelektual seperti zaman sekarang begitu singkat di kenang oleh orang lain,  sehingga sejarahpun seakan tertutup untuk zaman yang sedang error ini.
Kang Aaf nama singkat yang sulit untuk di lupakan merupakan bagian dari media yang ada di PPSMCH ( Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil ) Bangkalan, selain aktif di media yang berbentuk Majalah/ Buletin.  dia juga bagian dari mading Demangan News dan dia juga sebagai pimred Demangan News periode  2011-2013, kekreatifannnya mampu membawa Demangan News sedikit lebih maju, bahkan Demangan News sendiri telah sukses menerbitkan Antologi Cerpen dan sudah tersebar di sebagian besar masyarakat Bangkalan.
Karya-karyanya pernah di muat di beberapa majalah antara lain Aschal, Al-azhar, Demangan News, Serta pernah juga cerpennya  di muat di pustaka Ganast Dengan Judul “ mencari Tuhan Dalam Cinta”.
Langkah Aaf sejauh mata memandang semua yang berkaitan dengan pena adalah menjadi hobbi bagi Aaf. Sebenarnya Aaf mulai gemar dengan pena sudah di rasakan  sejak di MTs Al Azhar Serabi Barat  Namun dia baru berani mengapresiasikannya waktu di SMA Darussalam Pakong, serta dia mampu mengembangkannya setelah berada di PPSMCH Bangkalan, menulis di Bangkalan menurutnya jauh lebih hidup dari pada di tempat yang lain sebab di PPSMCH sendiri mendukung sekaligus menfasilitasi dengan adanya beberapa media Di PPSMCH yang dia tempati sekarang.
Mudah-mudahan walau jauh dari kesempurnaan tetap direspon oleh seluruh kalangan, serta membawa manfaat seluruh Ummat. Amin.
 

CERPEN ISLAMI

UNTUK UMUM

KARYA PRIBADI @af

SILAHKAN KUNJUNGI: http//:cepatkreatif.blogspot.com

LP3S

Lembaga Penerbitan Pp. Syaichona MOh. Cholil.